Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, para pengrajin batik tulis di Yogyakarta tidak tinggal diam. Mereka mulai memanfaatkan berbagai platform digital untuk memasarkan karya mereka ke pasar yang lebih luas.
Kampung batik di berbagai wilayah seperti Bantul, Sleman, dan Gunungkidul kini aktif menggunakan media sosial dan marketplace untuk menjual produk mereka. Langkah ini terbukti efektif dalam meningkatkan penjualan dan memperkenalkan batik Yogyakarta ke konsumen yang lebih beragam.
Ibu Sartini, seorang pengrajin batik tulis dari Imogiri, Bantul, berbagi pengalamannya: "Dulu kami hanya mengandalkan pembeli yang datang langsung ke rumah. Sekarang dengan bantuan anak-anak muda, kami bisa menjual batik ke seluruh Indonesia bahkan luar negeri."
Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta juga turut mendukung digitalisasi UMKM batik melalui berbagai program pelatihan dan pendampingan. Program ini meliputi:
- Pelatihan fotografi produk untuk media sosial
- Workshop pembuatan konten digital
- Pendampingan pendaftaran di marketplace
- Pelatihan pengelolaan keuangan digital
Meskipun demikian, para pengrajin tetap berkomitmen untuk menjaga kualitas dan keaslian batik tulis tradisional. Proses pembuatan yang memakan waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu tetap dipertahankan untuk menghasilkan karya seni yang bernilai tinggi.
Swadesi FM secara rutin mengangkat kisah-kisah para pengrajin batik dalam program siaran khusus yang disiarkan setiap Sabtu pagi.

